STRES,KECEMASAN,FRUSTASIdanAGREFISITAS
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Teori kesatuan psiko-fisik atau teori psiko-fisik
totalitas berkembang karena para ahli menyadari bahwa orang yang keadaan
kejiwaannya mengalami gangguan, karena rasa susah, gelisah atau ragu-ragu
menghadapi sesuatu, ternyata mempengaruhi kondisi fisiknya. Akibat rasa susah
dan gelisah menghadapi masa depan, seseorang kurang dapat tidur nyenyak,
sehingga akhirnya mempengaruhi tingkahlaku dan penampilannya. Sebaliknya
keadaan fisik yang kurang sehat, karena sedang sakit, sesudah mengalami
kecelakaan dan cidera, juga dapat mempengaruhi kejiwaan individu yang
bersangkutan; kurang dapat memusatkan perhatian pada masalah yang dihadapi,
kurang dapat berfikir dengan tenang, kurang dapat berfikir dengan
cepat,dsb-nya.
Sejak lebih kurang setengah abad yang lalu adanya
hubungan timbal-balik antara jiwa dan raga, atau antara gejala fisik dan
psikik, telah menjadi bahan pembahasan para ahli psikologi. Ronge (1951)
menyebutkan manusia sebagai suatu organisme, yang mengikuti hukum-hukum
biologi, hukum-hukum dalam pikir, rasa keadilan, dsb. Perasaan atau emosi
memegang peranan penting dalam hidup manusia. Semua gejala emosional seperti:
rasa takut, marah, cemas, stress, penuh harap, rasa senang dsb, dapat
mempengaruhi perubahan-perubahan kondisi fisik seseorang. Perasaan atau emosi
dapat memberi pengaruh-pengaruh fisiologik seperti: ketegangan otot, denyut
jantung, peredaran darah, pernafasan, berfungsinya kelenjar-kelenjar hormon
tertentu.
Sehubungan itu semua maka jelaslah bahwa gejala psikik
akan mempengaruhi penampilan dan prestasi atlet. Dalam hubungan ini pengaruh
gangguan emosional perlu diperhatikan, karena gangguan emosional dapat
mempengaruhi "psychological stability" atau keseimbangan psikik
secara keseluruhan, dan ini berakibat besar terhadap pencapatan prestasi atlet.
Dalam melakukan kegiatan olahraga, lebih-lebih untuk
dapat mencapai prestasi yang tinggi, diperlukan berfungsinya aspek-aspek
kejiwaan tertentu; misalnya untuk mencapai prestasi yang tinggi dalam cabang
olahraga panahan atau menembak, maka atlet harus dapat memusatkan perhatian
dengan baik, penuh percaya diri, tenang, dapat berkonsentrasi penuh meski ada
gangguan angin atau suara, dll-nya. untuk, menjadi peloncat indah atau peloncat
menara yang berprestasi tinggi, atlet yang bersangkutan harus memiliki rasa
percaya diri, keberanian, daya konsentrasi, kemauan keras, koordinasi.gerak
yang baik, dan rasa keindahan; ini semua akan dapat, terganggu apabila atlet
yang bersangkutan mengalami gangguan emosional.
Emosi atau perasaan atlet perlu mendapat perhatian khusus
dalam olahraga, karena emosi atlet di samping mempengaruhi aspek-aspek kejiwaan
yang lain (akal dan kehendak), juga mempengaruhi aspek-aspek fisiologiknya
sehingga jelas akan berpengaruh terhadap peningkatan atau merosotnya prestasi
atlet.
Ditinjau dari konsep jiwa dan raga sebagai kesatuan yang bersifat organis, maka gangguan emosional terhadap diri atlet akan berpengaruh terhadap keadaan kejiwaan atlet secara keseluruhan, ketidak-stabilan emosional atau "emotional instability" akan mengakibatkan terjadinya psychological instability", dan akan mempengaruhi peran fungsi-fungsi psikologisnya, dan pada akhirnya berpengaruh terhadap pencapaian prestasi atlet.
B. RUMUSAN MASALAH
Ditinjau dari konsep jiwa dan raga sebagai kesatuan yang bersifat organis, maka gangguan emosional terhadap diri atlet akan berpengaruh terhadap keadaan kejiwaan atlet secara keseluruhan, ketidak-stabilan emosional atau "emotional instability" akan mengakibatkan terjadinya psychological instability", dan akan mempengaruhi peran fungsi-fungsi psikologisnya, dan pada akhirnya berpengaruh terhadap pencapaian prestasi atlet.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas kita dapat di identifikaskan
beberapa rumusan masalah, diantaranya :
1. Apa
itu stress, kecemasan, frustasi dan agresifitas?
2. Bagaimana
gejala emosional stress dalam olahraga ?
3. Bagaimana
upaya pengendalian stress dan kecemasan dalam olahraga ?
4. Bagaimana
gejala stress terjadi ?
5. Bagaimana
tingkat kecemasan ?
6. Bagaimana
pengendalian agresifitas dalam olahraga ?
C.
TUJUAN
1. Untuk
mengetahui stress, kecemasan, frustasi dan agresifitas
2. Untuk
menegetahui gejala emosional stress dalam olahraga
3. Untuk
mengetahui upaya pengendalian stress dan kecemasan dalam olahraga
4. Untuk
mengeetahui gejala stress terjadi
5. Untuk
mengetahui tingkat kecemasan
6. Untuk
mengetahui pengendalian agresifitas dalam olahraga
D.
Manfaat
1. Memberikan
pemahaman terhadap pembaca tentang stress, kecemasan frustasi dam agresivitas
dalam olahraga.
2. Memberikan
sumbangan referesnsi kepada pembaca untuk bahan pembelajaran mengenai stress,
kecemasan, frustasi dan agresifitas dalam olahraga.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Pengertian Stress, Kecemasan, Frustasi, dan
Agresifitas.
1. Pengertian
Stress
Ketegangan atau juga
bisa disebut dengan stres yaitu tekanan atau sesuatu yang terasa menekan dalam
diri seseorang. Perasaan tertekan ini disebabkan oleh banyak faktor yang
berasal dari dalam dirinya maupun dari luar. Stres adalah ketidakseimbangan
antara tuntutan dengan kemampuan untuk memenuhi tuntutan tersebut
(Maksum:2008). Kejadian ini merupakan suatu kondisi yang disebabkan adanya
ketidaksesuaian antara situasi yang diinginkan dengan keadaan biologis,
psikologis atau sistem sosial individu tersebut (Sarafino:2006).
2. Pengertian
Kecemasan
Kecemasan/anxieties
adalah rasa khawatir, takut yang tidak jelas sebabnya. Kecemasan merupakan
kekuatan yang besar untuk menggerakkan tingkah laku baik tingkah laku normal
maupun tingkah laku yang menyimpang, yang terganggu dan kedua-duanya merupakan
pernyataan, penampilan, penjelmaan, dari pertahanan terhadap kecemasan
(Gunarso, 2003: 27). Kecemasan adalah suatu pengalaman perasaan yang menyakitkan yang
ditimbulkan oleh ketegangan-ketegangan dalam alat-alat intern dari tubuh.
Ketegangan-ketegangan ini adalah akibat dari dorongan-dorongan dari dalam atau
dari luar dan dikuasai oleh susunan urat syaraf yang otonom, misalnya kalau
seorang menghadapi keadaan yang berbahaya hatinya berdenyut lebih cepat, ia
bernafas lebih pesat, mulutnya menjadi kering dan tapak tangannya berkeringat
(Calvin. S, 1890 : 83)
3. Pengertian
Frustasi
Frustrasi
berasal dari bahasa Latin frustratio,
yaitu perasaan kecewaatau jengkel akibat terhalang dalam pencapaian tujuan.
Frustasi dapat diartikan juga sebagai keadaan terhambat dalam mencapai suatu
tujuan (Markam,2003). Frustasi merupakan suatu keadaan ketegangan yang tak
menyenangkan, dipenuhi perasaan dan aktivitas simpatetis yang semakin meninggi
yang disebabkan oleh rintangan dan hambatan.Frustrasi dapat berasal dari dalam
(internal) atau dari luar diri (eksternal) seseorang yang mengalaminya. Sumber
yang berasal dari dalam termasuk kekurangan diri sendiri seperti kurangnya rasa
percaya diri atau ketakutan pada situasi sosial yang menghalangi pencapaian
tujuan.
4. Pengertian
Agresifitas
Agresifitas
adalah istilah umum yang di kaitkan dengan adanya perasaan –perasaan marah atau
permusuhan atau tindakan melukai orang lain baik dengan tindakan kekerasan
secara fisik, verbal maupun menggunakan ekpresi wajah dan gerakan tubuh yang
mengancam atau merendahkan. Tindakan agresif pada umumnya merupakan tindakan
yang di sengaja oleh pelaku untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Ada 2 tujuan
utama agresif yang saling bertentangan satu dengan yang lain, yakni untuk
membela diri di satu pihak dan di pihak lain adalah untuk meraih keunggulan
dengan cara membuat lawan tidak berdaya.
B.
Gejala Emosional
Stress Dalam Olahraga
1. Stress dalam Pertandingan.
Menurut scanlan (1984)
dalam tulisnya yang berjudil: “kompetitif stress and the child atlet” yang dimuat
dalam buku “psikologikal foundation of sport” mengemukakan bahwa “competitive
stress” atau stress yang timbul dalam pertandingan merupakan reaksi emoasional
yang negative pada anak apabila rasa harga dirinya menrasa terancam. Hal
seperti ini terjadi apabila atlet yunior menganggap pertandingan sebagai
tantangan yang berat untuk dapat sukses, mengingat kemampuan penampilannya, dan
dalam keadaan seperti ini atlet lebih memikirkan akibat dari kekalahannya.
Stress selalu akan
terjadi pada diri individu apabila sesuatu yang diharapkan mendapat tantangan
sehingga kemungkinan tidak tercapainya harapan tersebut menghantui
pemikirannya. Stress adalah suatu ketegangan emosional, yang akhrinya
berpengaruh terhadap proses-proses psikologis maupun proses fisiologik.
Spielberger (1986)
dalam tulisnya mengenal “stress & Anxiety in sport” dalam kumpulan karya
ilmiah yang dihimpun oleh morgan berjudul “sport psychology” menegaskan bahwa
stress menunjukan “psychological proses” yang kompleks, dan proses ini pada
umumnya terjadi dalam situasi yang mengandung hal yang dapat merugikan,
berbahaya, atau dapat menimbulkan frustasi (streesor). “Stressor” menurut
Spielberger (1986) menunjukan situasi-situasi atau stimuli yang secara objrktif
ditandai dengan adanya tekanan fisik atau psikologi atau bahaya dalam suatu
tingkat tertentu.
Situasi penuh stress
akan ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dalam tingkat-tingkat yang berbeda
dalam perkembangan manusia. Reaksi yang berbeda akan muncul dalam menghadapi
“stressor”, tergantung pada situasi tertentu yang diperkirakan mengandung
ancaman. Ancaman juga berkaitan dengan persepsi dan penilaian individu terhadap
situasi yang dihadapi sebagai hal yang dapat merugikan dan mengandung bahaya.
Dalam hubungannya dengan aktifitas olahraga, khususnya kemungkinan terjadinya
stress menghadapi pertandingan maka permasalahannya sangat banyak tergantung
pada diri atlet yang bersangkutan.
C. Pengendalian Stress dan Kecemasan Dalam
Olahraga
Upaya
Pengendaliannya terhadap kecemasan dan stress dalam olahraga. Dalam upaya
pengendalian kecemasan (anxiety) dan stress dalam olahraga penulis garis bawahi
diantaranya: 1. Strategi Relaksasi, 2. Strategi kognitif, 3.Teknik-teknik
peredaan ketegangan dan mekanisme pertahanan diri.
1. Strategi Relaksasi
Keadaan
relaks adalah keadaan saat seorang atlet berada dalam kondisi emosi yang
tenang, yaitu tidak bergelora atau tegang. Keadaan tidak bergelora tidak
berarti merendahnya gairah untuk ben-nain, melainkan dapat diatur atau
dikendalikan pada titik atau daerah Z sesuai dengan hipotesis U-terbalik.
Untuk
mencapai keadaan tersebut, diperlukan teknik-teknik tertentu melalui berbagai
prosedur, baik aktif maupun pasif. prosedur aktif artinya kegiatan dilakukan
sendiri secara aktif. Sementara itu, prosedur pasif berarti seseorang dapat
mengendalikan munculnya emosi yang
bergelora, atau dikenal sebagai latihan autogenik.
Oleh
karma itu, para ahli kemudian berupaya keras untuk mencari modifikasi agar
latihan relaksasi progresif dapat dilakukan dalam format yang lebih pendek dan
praktis. Apabila seseorang telah beberapa kali ber¬hasil dalam keadaan relaks,
maka pengelompokan otot dapat
diperbesar menjadi lima kelompok, yaitu:
1.Lengan dan tangan bersama-sama.
2.Semua otot muka.
3.Dada, pundak, punggung bagian atas, perut.
4.Pinggul dan pangkal paha.
5.Kaki dan tapak kaki.
1.Lengan dan tangan bersama-sama.
2.Semua otot muka.
3.Dada, pundak, punggung bagian atas, perut.
4.Pinggul dan pangkal paha.
5.Kaki dan tapak kaki.
2. Strategi Kognitif
Strategi
kognitif didasari oleh pendekatan kognitif yang menekankan bahwa pikiran atau
proses berpikir merupakan sumber kekuatan yang ada dalam diri seseorang. Jadi,
kesalahan, kegagalan, ataupun kekecewaan, tidak disebabkan oleh objek dari
luar, namun pada hakikatnya bersumber pada inti pikiran atau proses berpikir
seseorang. Misalnya, seorang atlet bulutangkis tidak dapat menyalahkan
shuttlecock karena berat atau kecepatannya berbeda dari biasanya, karena yang
menentukan sesuai atau tidaknya caranya memukul dan kekuatan pukulan adalah
proses berpikir atlet tersebut. Jadi, yang seharusnya diubah adalah pengendali
perilaku atlet, dalam hal ini gerakan atau pukulannya, agar dapat menyesuaikan
dengan keadaan khusus.
3. Teknik-teknik Peredaan Ketegangan
Hanya
mengetahui "apa" atau "the what"saja mengapa atlet tegang
atau takut tanpa mengetahui "the how" atau "bagaimana" cara
penyembuhannya tidaklah banyak manfaatnya dan tidak akan menolong atlet. Oleh
karena itu, pelatih sebaiknya juga mempersenjatai diri dengan keterampilan
bagaimana cara meredakan ketegangan yang ada pada atlet. Ada beberapa teknik
yang bisa membantu menurunkan atau mengurangi ketegangan atlet (desensitizatioll,
techniques). Antara lain:
a.
Teknik Jacobson dan Schultz, yaitu dengan mengurangi arti pentingnya
pertandingan dalam benak atlet, atau mengurangi ancaman hukuman kalau atlet
gagal.
b.
Teknik Cratty. Dengan teknik ini, mula-mula disusun suatu urutan (hierarki)
anxiety yang dialami atlet, dari Yang paling ditakuti sampai yang paling kurang
ditakuti oleh atlet. Pada permulaan, atlet dihadapkan pada situ¬asi yang paling
sedikit membangkitkan anxiety. Setelah
atlet terbiasa dan tidak takut lagi dengan situasi terse-but, dia kemudian
dilibatkan dalam situasi takut yang agak lebih berat. Demikian seterusnya.
c.
Teknik progressive muscle relaxation dari Jacobson, yaitu latihan memaksa
otot-otot yang tegang dijadikan relaks.
d.
Teknik autogenic relaxation, yaitu toknik relaksasi Yang menekankan pada
sugesti diri (self-suggestion).
e.
Latihan pernapasan dalam (deep breathing).
f.
Meditasi.
g.
Berpikir positif.
h.
Visualisasi.
i.
Latihan simulasi: pada waktu latihan, berlatihlah dengan menciptakan situasi
seakan-akan sedang betul¬betul bertanding, dan usahakan untuk tampil sebaik-baiknya. Lakukan latihan dengan intensitas
yang tinggi seperti dalam pertandingan sebetulnya. Biarkan atlet mengalami
stres fisik maupun mental.
D. Gejala Stress Terjadi
Stres sifatnya universiality, yaitu umum semua orang sama dapat merasakannya,
tetapi cara pengungkapannya yang berbeda atau diversity. Sesuai dengan
karakteristik individu, maka responnya berbeda- beda untuk setiap orang.
Seseorang yang mengalami stres dapat mengalami perubahan-perubahan yang
terjadi,
Hardjana
(1994) mengemukakan bahwa terdapat kriteria-kriteria gejala-gejala stress,
antara lain :
1) Gejala fisikal:
Sakit kepala, pusing,
pening. tidur tidak teratur, insomania atau susah tidur, bangun terlalu awal,
sakit punggung, terutama bagian bawah ,mencret-mencret
dan radang usus besar, sulit buang air besar, sembelit. gatal – gatal pada kulit, urat-urat tegang terutama
leher dan bahu, keringat berlebih, terganggu pencernaan atau bisulan, tekanan
darah tinggi atau serangan jantung, berubah selera makan, lelah atau kehilangan
daya energy, bertambah banyak melakukan kekeliruan dan kesalahan dalam kerja
dan hidup.
2) Gejala Emosional
Gelisah dan
cemas, sedih, depresi, mudah menangis, merasa jiwa dan hati atau mood
berubah-ubah dengan cepat, mudah panas dan marah, gugup, rasa
harga diri menurun dan merasa tidak aman, rasa harga diri menurun
dan merasa tidak aman, marah-marah, gampang menyerang orang dan bersikap bermusuhan,
emosi mengering kehabisan sumber dayamental (burn out).
3) Gejala Kognitf
Susah berkonsentrasi
dan memusatkan pikiran, sulit mengambil keputusan, mudah terlupa, pikiran
kacau, daya ingat menurun, melamun secara berlebihan, pikiran
dipenuhi oleh satu pikiran saja, kehilangan rasa humor yang sehat, produktifitas atau prestasi
kerja menurun, mutu kerja yang rendah.
4) Gejala
Interpersonal
Kehilangan
kepercayaan terhadap orang lain., mudah mempermasalahkan orang lain., mudah
membatalkan janji atau tidak memenuhi perjanjian, suka mencari – cari kesalahan
orang lain atau menyerang orang dengan kata-kata, mengambil sikap terlalu
membentengi dan mempertahankan diri, membiarkan orang lain.
E. Tingkat Kecemasan
Menurut Peplau ada empat tingkat
kecemasan yang dialami oleh individu yaitu sebagai berikut:
Pertama, Kecemasan Ringan yaitu dihubungkan
dengan ketegangan yang dialami sehari-hari. Individu masih waspada serta lapang
persepsinya meluas, menajamkan indra. Dapat memotivasi individu untuk belajar
dan mampu memecahkan masalah secara efektif dan menghasilkan pertumbuhan dan
kreatifitas. Contohnya: Seseorang yang menghadapi ujian akhir, pasangan dewasa
yang akan memasuki jenjang pernikahan, individu yang akan melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, individu yang tiba-tiba di kejar
anjing menggonggong.
Kedua, Kecemasan Sedang yaitu Individu
terfokus hanya pada pikiran yang menjadi perhatiannya, terjadi penyempitan
lapangan persepsi, masih dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang lain.
Contohnya : pasangan suami istri yang menghadapi kelahiran bayi pertama dengan
resiko tinggi, keluarga yang menghadapi perpecahan (berantakan), individu yang
mengalami konflik dalam pekerjaan.
Ketiga, Kecemasan Berat yaitu lapangan
persepsi individu sangat sempit. Pusat perhatiannya pada detail yang kecil
(spesifik) dan tidak dapat berfikir tentang hal-hal lain. Seluruh perilaku
dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dan perlu banyak perintah/arahan untuk
terfokus pada area lain. Contoh: individu yang mengalami kehilangan harta benda
dan orang yang dicintai karena bencana alam, individu dalam penyanderaan.
Keempat, Panik yaitu individu kehilangan
kendali diri dan detail perhatian hilang. Karena hilangnya control, maka tidak
mampu melakukan apapun meskipun dengan perintah. Terjadi peningkatan aktivitas
motorik, berkurangnya kemampuan berhubungan dengan orang lain, penyimpangan
persepsi dan hilangnya pikiran rasional, tidak mampu berfungsi secara efektif. Biasanya
disertai dengan disorganisasi kepribadian. Contoh: individu dengan kepribadian
pecah/despersonalisasi (Suliswati, 2005: 48).
F. Pengendalian Agresifitas Dalam
Olahraga
Sifat
agresif hanyalah merupakan salah satu dari sifat individu. Kecendrungan sifat
agresif pada pemain menjadi tingkahlaku yang positif dan diperlukan untuk
memenangkan sebuah pertandingan atau sebaiknya menjadi tindakan destruktif.
Sifat agresif yang dimiliki pemain yang juga memiliki kestabilan emosional,
disiplin, rasa tanggungjawab yang besar, tidak akan menjadi masalah dalam
pengarahannya.
Pelatih
dapat menyiapkannya untuk bermain agresif, dengan tidak khawatir ia akan
bertindak destruktif dan merugikan lawannya. Oleh karena itu, pelatih hendaknya
memberikan:
1.
Anjuran untuk bermain agresif harus terarh, kapan, dan bagaimana cara yang
tetap agar tidak menimbulkan hal negatif dan melukai lawan.
2.
Bermain agresif harus disertai dengan peningkatan penguasaan diri, agar dapat
mengkontrol diri sendiri.
3.
Bermain agresif harus disertai dengan disiplin dan rasa tanggungjawab, yaitu
selalu mematuhi peraturan dan tunduk pada keputusan wasit serta dapat
mempertanggungjawabkan tindakannya.
4.
Perlu ada penghargaan bagi nmereka yang bertindak agresif tetapi tidak melukai
lawan, memelihara sportivitas, dan sebaliknya memberi hukuman apabila berusaha
melukai lawan atau tindakan tercela dan melanggar peraturan.
Dalam
upaya pengendalian tindak kekerasan dan agresifitas yang menyimpang, R.H. Cox
mengungkapkan :
1.
Atlet-atlet muda harus diberi pengetahuan tentang contoh tingkah laku non
agresif, penguasaan diri, dan penampilan yang benar.
2.
Atlet yang terlibat dalam tindakan agresif harus dihukum. Harus disadarkan
bahwa tindakan agresif dapat membahayakan lawan atau tindakan yang tidak
dibenarkan.
3.
Pelatih yang memberi kemungkinan para atlet terlibat agresif dengan kekerasan
harus diteliti dan harus dipecat dari tugasnya.
4.
Pengaruh dari luar yang memungkinkan terjadinya tindakan agresif dengan
kekerasan dilapangan harus dihindarkan.
5.
Para pelatih dan wasit didorong atau dianjurkan untuk menghadiri lokakarta yang
membahas tentang tindakan agresif dan kekerasan
6.
Disamping hukuman terhadap tindakan agresif dengan kekerasan atlet harus
didorong secara positif meningkatkan kemampuan untuk bertindak tenang terhadap
situasi emosional.
7.
Penguasaan emosi menghadapi tindakan agresif dengan kekerasan harus dilatih
secara praktis antara lain melalui latihan mental.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
pembahasan diatas maka penulis dapat simpulkan antara lain :
1. Bahwa (a) atlet harus dilatih agar tingkat Kecemasan, stress, kecemasan, frustasi dan agresivitas dalam olahraga.
2. Menjadi semakin penting untuk memberikan latihan-latihan peredaan kecemasan, stress dan ketegangan kepada atlet-atlet atau anak didik.
3. Petunjuk-petunjuk peredaan Anxiety dan kecemasan akan efektif apabila diberikan pada saat-saat men¬jelang permulaan dan akhir pertandingan.
1. Bahwa (a) atlet harus dilatih agar tingkat Kecemasan, stress, kecemasan, frustasi dan agresivitas dalam olahraga.
2. Menjadi semakin penting untuk memberikan latihan-latihan peredaan kecemasan, stress dan ketegangan kepada atlet-atlet atau anak didik.
3. Petunjuk-petunjuk peredaan Anxiety dan kecemasan akan efektif apabila diberikan pada saat-saat men¬jelang permulaan dan akhir pertandingan.
B.
SARAN
Kepada
masyarakat khususnya pembaca senantiasa tidak luput dari rasa penasaran dan
rasa ingin tahu yang tinggi tentang semua pelajaran yang dapat membantu dalam
menunjang keinginan kita sebagai orang yang terpelajar, Sebagai generasi muda,
kita sepantasnya mampu memahami stress, kecemasan, frustasi dan agresifitas
dalam olahraga sebagai bekal kemampuan sebagai calon pendidik atau pelatih di
masa mendatang. Hal ini merupakan kunci bahwa setiap waktu merupakan ilmu yang
berguna yang artinya tidak ada kata terlambat dalam hal belajar.
DAFTAR
PUSTAKA
Bakker,
F.C., Whiting, "I.T.A., & Van der Brug. (1990). Sport psychology,
concepts and applications. New York: John Wiley & Sons.
Cratty,
B.J. (1973). Psychology in contemporary sport. New York: Prentice Hall, Inc.
Eberspacher,
H. (1982). Sportpsychologie, Grundlagen, Methoden, Analysers. Rowohlt: Reinbek.
Harsono.
(1988). Coaching dan aspek-aspeh psihologis
dalam coaching. Jakarta: C.V. Tambak Kusuma.
dalam coaching. Jakarta: C.V. Tambak Kusuma.
Harsono.
(1990). Metode Mengajarkan Keterampilan Olahraga. Lokaharya Pendidihan
Berpihir, IKIP Bandung. Makalah.
Loehr,
J.E. (1986). Mental toughness training for sports., New York: A Plume Book.
Komentar
Posting Komentar